ubah cinta, ubah jiwa, ubah dunia.”

Satu kata cinta Bilal:
“Ahad!”
Dua kata cinta Sang Nabi:
“Selimuti aku..!”
Tiga kata cinta Ummu Sulaim:
“Islammu, itulah maharku!”
Empat kata cinta Abu Bakar:
“Ya Rasulallah, saya percaya..!”
Lima kata cinta ‘Umar:
Ya Rasulallah, ijinkan kupenggal lehernya!”
Selamat datang di jalan cinta para pejuang.
Apa yang berlarian di pikiran Anda ketika terletup kata ‘cinta’? Apakah kegilaan Qais pada Layla yang mengakhirkan kenestapaan? Atau roman klasik Romeo-Juliet yang jua ditutup dengan tragedi mengiris hati? Keduanya tampak indah dan romantis. Membekas di relung benak setiap pendengar kisahnya. Tetapi bukan ‘cinta’ jenis ini yang hendak kita diperjuangkan.
 “Lalu tugas besar kita pun dimulai: ubah cinta, ubah jiwa, ubah dunia.”
Itulah sebagian ketidaktepatan memadukan antara kebahagiaan dan cinta. Pemahaman mengenai cinta yang keliru kerap membuat umur cinta tidak tahan lama. Di jalan cinta para pejuang, kita hendak membina kesetiaan dan pengorbanan. Mengesahkan komitmen sebagai tapak pertama kita.
Memang beginilah cinta semestinya. Ia membangkitkan tekad, menguatkan iman, mengokohkan gairah. Sekali lagi, ia bukan tujuan. Ia merupakan bekal kita sebagaimana emosi-emosi kita lainnya. Dan kita, insya Allah, lebih memahaminya ketika memasuki bagian ketiga. Kala kita menapaki empat jejak.
Visi yang terang benderang membuat cinta bertahan lebih lama dan lebih terarah. “Takdir adalah misteri, tugas kita adalah mencitakan dan merencanakan.
Semua orang mungkin mampu merenda mimpi, tapi kemampuan ini kerap kalah dari kemampuan kita untuk menunda. Padahal cinta adalah kata kerja. Mereka yang siap mencintai, berarti mereka siap memberi dan berkorban. Mereka siap bertanggung jawab. Bahkan cemburu pun menjadi letupan gairah. Membuat visi yang jauh, terasa berada di depan kelopak.
Namun kadang, keduanya tetap tak cukup membeningkan keadaan. Seluruhnya masih tampak buram dan kelam. Maka jejak ketiga ialah melihat seluruhnya dengan nurani yang bersih.
Nurani yang menyelamatkan. Jernih dari sangka buruk pada Allah. Tidak terlalu menghitam akibat dosa dan maksiat. Dengan nurani, cinta mengejawantah dalam kerja-kerja besar dakwah dan jihad. Menerangi visi dan membatasi gairah yang kerap meletup tak berbatas. Nurani menjadikan kita bersyukur tak sekadar berpuas.
“Yang berharta, janganlah puas dengan shadaqahnya. Yang berilmu, janganlah puas dengan amal dan dakwahnya. Yang bernafas, janganlah puas sekadar berbaring dan duduk. Tapi bangkitlah. Berlarilah.” (hlm. 282)

“Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tidak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas. Tapi yakinlah, di jalan cinta para pejuang, Alloh lebih tahu tentang kita.” 
Jika ketiganya telah ditunaikan, cukupkah? Belum, selama kita tidak mendisiplinkan diri. Inilah jejak keempat. Tidak ada yang memegang kemudi kita, kecuali diri kita sendiri.
"Salim A Fillah" dalam "di jalan Cinta para pejuang"

Komentar